Pengetahuan

Bacaan Alkitab: 1 Kor 8:1-13

Waktu Tuhan menciptakan manusia, diberikan kepada makhluk yang paling Ia hargai dan senangi yaitu sebuah kekayan besar yang Ia tempatkan dalam diri ciptaan-Nya yaitu segenggam benda kecil yang disebut otak. Otak terbungkus begitu rapi dalam tulang tempurung di kepala seorang manusia. Salah satu fungsi dari otak manusia adalah untuk menyimpan sejumlah pengetahuan yang diperoleh pada saat manusia berpikir. Melalui otak pemberian Allah manusia memiliki sejumlah pengetahuan yang bisa menghidupi dirinya.
Selain otak, manusia juga memiliki hati yang Tuhan siapkan untuk mengembangkan rupa dan gambar Diri-Nya diatas muka bumi ini. Melalui hati yang penuh perasaan suci dan otak yang diliputi pikiran yang baik, Tuhan siapkan diri seorang manusia sedemikian rupa sehingga saat ia bergaul akrab dengan orang lain ia akan menunjukan sikap diri yang penuh belas kasih dan penuh pengertian sehingga ditempat ia berada ada suasana ilahi yaitu suasana yang penuh damai sejahtera.

Seorang manusia yang mempunyai pikiran yang baik dan hati yang tulus pada Tuhan dan sesama akan senantiasa ia menjadi buah bibir banyak orang karena ia memiliki tata laku hidup yang baik. Tentunya ia mempunyai bukan hanya tutur kata yang sopan melainkan dalam pergaulan dengan sesama betapa semua orang akan menyayangi dirinya sebab ia baik. Kalau hari ini kita disapa oleh Rasul Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Korintus kita temui dikota yang nota bene manusia telah diajar untuk berpikir dan membangun masa depan dengan ilmu filsafat yang hebat dalam dunia peradaban Yunani yang maju saat itu. Di Korintus, kota yang berperadaban itu hidup orang-orang Kristen yang baru belajar mengenal kehidupan Ilahi yang kudus sedang menghadapi problem dalam persekutuan mereka sendiri. Persoalan yang merenggankan persekutuan sedang terjadi di Korintus. Masalahnya adalah pada hal yang sepele yaitu tentang pengetahuan segelintir orang percaya. Sekonyong-konyong yang memiliki pengetahuan yang lebih dari yang lain mengatakan segala sesuatu boleh dimakan. Makanan yang sudah diserahkan kepada berhala di kuil-kuil kafir boleh disantap. Kata mereka: “Tak mengapalah, namanya juga daging, makanlah!” Mengapa boleh makan makanan di kuil tempat pemujaan berhala itu? Sejalan dengan iman rasul Paulus, mereka bisa mengatakan begini: “tidak ada berhala di dunia, dan tidak ada allah lain dari pada Allah yang esa. Hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Celaka!
Di Korintus tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama. Itulah sebabnya saat itu terjadi bukan hanya perdebatan. Di jemaat Korintus, mereka yang lemah pengetahuannya dan hati nurani yang lemah berpikir kalau mereka telah menghianati kepercayaan pada Allah. Yang terjadi hati nurani mereka dinodai oleh ulah segelintir orang yang memiliki pengetahuan. Rasul Paulus yang tulus hati dan ingin agar persekutuan yang dibangun di Korintus tetap terikat dalam tali persaudaraan yang rukun, ia lantas menasihati mereka yang cerdas pikirannya supaya memahami kalau kebebasan mereka jangan menjadi batu sandungan bagi yang lemah.

Di zaman moderen ini, kekayaan yang berharga dalam hidup seorang manusia bukanlah pada harta yang sedang ditimbun. Bukan pada kekayaan yang tersimpan dan akan diwariskan. Kekayaan yang berharga didunia yang berkembang pesat dalam ilmu pengetahuan ialah sampai sejauh mana pengetahuan yang tersimpan di dalam otak. Semakin pandai seseorang semakin terjamin hidupnya di dunia ini. Melalui pengetahuan yang baik seseorang bisa meraih segala sesuatu di muka bumi ini. Ingat jangan jadikan pengetahuan sebagai berhala untuk menjauhkan sesama dari Tuhan. Yang mempunyai banyak pengetahuan akan hidup bahagia. Namun lebih dari pada itu seorang yang disebut berbahagia adalah kalau ia mengasihi Allah, sebab ia dikenal Allah. Mereka yang mengasihi Allah tentu mempunyai pengetahuan yang benar dan luas juga tentang Allah. Namun, Rasul Paulus menasihati kita dalam sodoran suratnya ini bahwa yang memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang Allah perlu juga memiliki hati nurani yang baik. Belajar memahami sesama dalam persekutuan dan bergaul akrab dengan sikap hidup yang rendah hati, itulah yang diharapkan. Ingatlah bila Anda belajar untuk merendahkan hati dan mau menerima sesama dengan senang hati tanpa membedakan dirinya maka Anda telah memulai sebuah rancangan Allah untuk mewujudkan damai sejahtera di bumi ini.
Tali yang mengikat persekutuan kita sehingga berpadu erat di bumi ini bukanlah terletak pada pengetahuan yang dimiliki tetapi pada sikap diri yang rendah hati. Berbahagialah orang yang rendah hati karena mereka akan beroleh kemujuran. Selamat belajar merendahkan hati pada sesama. Tuhan berkati. JW

 

Author: JW
Editor: /B/K

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *