Aku Menyertai Engkau

Bacaan Alkitab: Keluaran 3:1–14

Dari seorang penggembala yang keluar masuk padang rumput, hidup yang keras menantang alam yang acap waktu kering dan gersang atau berjuang melawan binatang buas yang ingin menerkam kawanan domba gembalaan, bahkan supaya kawanan ternak gembalaan makan sepuasnya, Musa harus berjuang keras untuk mengapai kesuksesan sebagai pengembala. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain hanya ingin memuasakan kawanan domba gembalaannya.

Alkisah pada suatu siang hari matanya tertuju pada semak yang berada di seberang padang gurun di Gunung Horeb, Musa melihat hal yang aneh di depannya. Semak duri yang berada dalam pandangan matanya terbakar. Api membumbung dari rerumputan itu tetapi ada sesuatu yang tak masuk akal pikir dalam otak Musa. Terbakar tapi tidak hangus. Membara tapi tidak ia melihat ada daun dan semak yang layu.

Keajaiban ini membuat Musa yang hatinya penuh penasaran datang mendekat. Ia hanya ingin tahu apa gerangan yang terjadi di gunung ini. Kakinya melangkah meninggalkan sejenak kambing domba milik mertuanya, Yitro. Berjalanlah Musa mendekat dengan kaki beralaskan kasut menapak semak duri yang terbakar itu. Ia hanya ingin memeriksa penglihatanyang di depan matanya. Ingin melihat semak duri yang terbakar Taat kala itulah Malaikat Tuhan yang turun menampakan diri dalam nyala api menunjukan kuasanya kepada Musa, Ia menyapa Musa: “Musa-Musa!…jangan datang dekat-dekat, tanggalkan kasutmu dari kakimu, sebab tempat yang engkau berdiri itu adalah kudus.” Tuhan lalu menyatakan diri kepada Musa. Ia, Tuhan adalah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Yang yang memiliki akhlak yang baik menunjukan kesopansantuanan-Nya kepada seorang yang tak layak menghampiri-Nya. Ia mengajarkan tata krama berkomunikasi yang baik kepada semua manusia melalui Musa. Ia menunjukan kuasa dirinya dan memperkenalkan dirinya sebagai Yang Mahakuasa.

Lanjut kasih setia Malaikat Tuhan yang sudah membangun relasi komunikasi yang baik dengan Musa berkata kalau Ia, Tuhan telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh keluh keah dan jerit tangis umat-Nya di Mesir. Umat yang Ia kasihi dan sedang alami perbudakan yang penuh penderitaan.

Musa sudah mengetahui semuanya itu ketika selama 40 tahun ia menemui semua kesengsaraan saudara sebangsanya. Keluh-kesah dan jerit tangis sudah Tuhan dengar. Sudah juga Musa melihat dan merasakan semuanya.

Tapi apakah yang bisa Musa perbuat? Bukankah ia pernah berjuang untuk membela hak saudara sebangsanya. Bahkan karena itu hampir nyawanya melayang. Bukankah karena rasa belas kasih kepada saudara sebangsanya membuat ia lari dari hadapan Firaun. Tentunya Musa hanya mendengar yang sedang Tuhan percakapkan. Mungkin ia tidak menyangka kalau penderitaan saudara sebangsanya akan lepas ketika ia mendengar perintah Tuhan untuk kembali ke Mesir. Tak habis pikir kalau ia harus menghadapi kenyataan yang menegangkan dan penuh resiko. Itulah juga maka Musa berkata kepada Malaikat Tuhan yang berhadapan dengannya: “Siapakah aku ini maka aku akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir…”

Yang terbesit dalam hati Musa adalah ketakutan dan tak berdaya menghadapi kekuasaan raja Mesir dan berhadapan dengan saudara sebangsa yang menghianati perbuatan dirinya sampai ia harus mengembara dari satu padang ke padang rumput yang lain untuk mempertahankan nasib hidupnya.

Kala itulah Tuhan mengatakan: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau…”

Alkisah sejarah iman seorang gembala yang tangguh di dalam pekerjaannya dipanggil oleh Allah untuk memulai sebuah rancangan kerja baru yang diatur oleh Allah dalam usia yang kedelapan puluh tahun. Sudah lanjut usia tapi Tuhan memakainya guna mendatangkan kebaikan pada sesama.

Ia, Musa yang telah memeriksa penglihatan pekerjaan Tuhan Allah berhadapan dengan suruhan Tuhan. Ia dipakai untuk membebaskan bangsanya dari roh perbudakan. Ia dipakai untuk membangun sebuah bangsa yang tangguh menghadapi semua tantangan alam dan manusia. Musa dipakai untuk mengubah sejarah sebuah bangsa. Yang Musa kerjakan dan jalani karena Tuhan menyertainya.

Kita sadar bahwa sejarah keimanan kita saat ini adalah juga tidak terpisah dari rentetan kerja sosok gembala yang baik dalam sejarah umat Allah di bawah pimpinan Musa. Ia mengawali karya kasih kepada bangsanya karena Tuhan Allah beserta dirinya. Musa meninggalkan kepada kita sikap diri yang berupaya ingin tahu rahasia pekerjaan Tuhan sehingga ia bisa bertemu dengan Tuhan. Ia taat mendengar dan menuruti yang Tuhan amanatkan sehingga bangkitlah sebuah keputusan diri yang mau berjuang untuk memperbaiki nasib hidup sesama.

Kalau saat ini mungkin saudara seiman sedang melihat perbuatan Allah yang ajaib yang menyenangkan bersyukurlah, karena Tuhan menyertai saudara. Tetapi yang penuh kepahitan sekalipun datanglah mendekat kepada Tuhan. Periksalah yang Tuhan perbuat yang pahit dan aneh itu maka Tuhan akan membuka jalan yang baru bukan hanya untuk saudara seiman hidup yang bahagia tetapi supaya semua orang beroleh sukacita. Mungkin ada perjuangan yang penuh tantangan, yang membuat nyali menjadi kecut. Tetapi ingatlah Tuhan tak pernah ingkari janji. Kalau Tuhan berkata kepada Musa:”Aku akan menyertai engkau…” Demikian pun kepada saudara yang sedang menerima kepahitan hidup ini ingatlah nama Tuhan kita “Imanuel” Allah beserta kita. Ingatlah perkataan Tuhan yang Ia tinggalkan kepada kita: “ …ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Selamat melihat perbuatan Tuhan. Salam JW.

Author : JW
Editor : /B/K

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *