Penerapan Ajaran Yang Benar

Sabda Bina Umat
Materi Khotbah Ibadah keluarga
Rabu, 30 Mei 2018
 
Titus 2:9-10
Oleh: Pdt. Samuel Natar, M. Th.

Pendahuluan

Memberlakukan aturan dalam hidup manusia merupakan suatu pernyaratan, jika ingin aman dan damai. Misalnya dalam keluarga, dalam kehidupan masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan, tentu ada aturan yang harus diberlakukan dan dihormati oleh setiap orang. Aturan tersebut diberlakukan dengan harapan, agar terwujud, kenyamanan, ketertiban dan ketentraman. Namun dibalik diberlakukan berbagai aturan dalam setiap sendi kehidupan, diharapkan tercipta rasa hormat atau saling menghargai seorang dengan yang lainnya, ketika masing-masing orang melaksanakan aktivitasnya. Hal seperti itu merupakan ajakan atau ajaran yang benar Dan harus diterapkan kepada setiap orang.

Pemahaman Konteks

Saudaraku, pemambacaan kita saat ini yang terambil dari kita Titus 2 : 9-10 yang kemudian diberi tema: PENERAPAN AJARAN YANG BENAR mau menjelaskan tentang peran para hamba dengan tuannya. Kita tahu bersama, bahwa dalam Konteks pengutusan para murid, akibat dari peristiwa Pencurahan Roh Kudus, maka pengajaran atau pemberitaan Injil Kristus mulai diberitakan oleh Rasul-rasul. Dan pemberitaan Injil Kristus tidak hanya ditunjukkan kepada orang-orang Yahudi saja, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain (Matius 28:19-20). Tidak hanya kepada orang-orang tertentu, tetapi kepada semua orang. Kaya maupun miskin, orang besar (pejabat) maupun orang kecil (miskin). Artinya menyangkut pemberitaan Injil Kristus, harus disampaikan kepada semua orang, tanpa terkecuali. Namun memang harus kita ketahui, bahwa kehidupan kita saat ini berbeda dengan kehidupan masa para rasul. Kehidupan pada masa Injil diberitakan, dimana masyarakat saat itu, masih diwarnai oleh perbudakan. Orang-orang tawanan dapat di jual oleh tuannya, untuk dijadikan budak dan dipekerjakan sesuai keinginan tuannya. Misalnya kisah Yusuf yang di jual oleh Saudara-saudaranya kemudian dijadikan budak di Mesir, oleh para pembesar di Mesir (Kejadian 37: 27-28). Menjadi budak saat itu memang merupakan pekerjaan yang sangat tidak enak. Terkadang seorang budak mengalami hukuman, seperti penyiksaan oleh tuannya, bahkan terkadang tidak diberi makan, apabila mereka telah melakukan kesalahan dalam bekerja. Pernah bangsa kita mengalami perbudakan oleh bangsa penjajah. Dan saat itu, para orang tua kita sangat menderita. Karena itu mereka berusaha untuk memperjuangkan kemerdekaan, agar perbudakan tidak terjadi bagi anak dan cucunya kelak. Kitalah anak cucu dari orang tua kita yang memperjuangkan kemerdekaan. Orang tua kita dulu mengatakan cukuplah mereka yang menderita akibat perbudakan, jangan lagi anak dan cucu mereka. Karena itu, Rasul Paulus dalam suratnya juga sangat memberikan perhatiannya kepada para budak, dalam hubungan dengan para tuan-tuan si pemilik budak.

Pemahaman Teks

Dalam bacaan kita Rasul Paulus mencoba mengingatkan Titus di Kreta, agar ia memberi nasehat tidak hanya kepada orang tua (bapak dan para ibu) dan anak-anaknya, demikian juga kepada para perempuan muda, agar mereka bukan hanya berlaku baik kepada anggota keluarganya, tetapi juga harus hidup dengan tertib seperti yang Tuhan kehendaki (ay. 1 – 8). Selain itu, Paulus juga mengingatkan Titus, agar IA dapat memberi nasehat dan pengajaran kepada para hamba-hamba yang bekerja kepada tuannya. Seperti yang dikatakan pada ay. 9 : “Hamba-hamba Hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, Jangan membantah”. Sebenarnya, Rasul Paulus memahami bagaimana penderitaan seorang hamba atau budak, karena ia sendiri juga memiliki seorang hamba atau budak, yaitu Onesimus. Namun Paulus memperlakukan Onesimus, tidak seperti budak kebanyakan, melainkan ia menjadikannya sebagai saudara yang kekasih (Filemon 1 : 16). Karena itu, Paulus mengakui bahwa tidak jarang para hamba atau budak melakukan perlawanan dan pemberontakan kepada tuannya, karena mereka merasa diperlakukan dengan tidak adil dan kejam. Sebenarnya, pernyataan Paulus kepada para hamba atau budak menyangkut Ketaatan mereka kepada tuan mereka, sekaligus mau mengingatkan para tuan-tuan yang memiliki budak, agar mereka berlaku adil, dan menempatkan para hamba atau budak sebagai sesama manusia yang memerlukan perhatian dan cinta kasih. Sebab bagi Paulus, bahwa perhatian dan cinta kasih sangat didambakan oleh setiap orang, siapapun dia, termasud para budak, dan tentu saudara dan saya pasti mengharapkan hal tersebut. Seperti yang dikatakannya: “….tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus ” (Galatia 3 : 28). Karena itulah, Paulus menegaskan kepada para hamba-hamba untuk melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, agar mereka mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari tuannya.
Selain Paulus meminta para hamba-hamba, untuk dapat mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik, Paulus juga mengingatkan agar dalam bekerja, mereka tidak boleh melakukan kecurangan (ay. 10a). Bagi Paulus melakukan kecurangan dalam pekerjaan, merupakan suatu tindakan yang sangat tidak terpuji. Hal tersebut ditegaskan Paulus, dengan dasar bahwa setiap orang yang telah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan juruslamatnya, maka mereka harus menerapkan dan memberlakukan ajaran yang benar. Dan salah satunya adalah, tidak boleh berlaku curang, ketika mereka sedang dipercayakan suatu tanggung jawab dalam pekerjaan. Sebab bagi Paulus, jika dalam kondisi sesulit apapun yang mereka alami, ketika mereka melakukan pekerjaan sebagai hamba atau budak dengan jujur dan benar, maka mereka telah membuktikan iman dan ketaatan mereka kepada Kristus. Lebih lanjut Paulus mengingatkan, agar para hamba mengerjakan tanggung jawab pekerjaannya dengan tulus dan setia. Tulus berarti sungguh-sungguh, lahir dari hati yang suci dan tidak dalam keadaan terpaksa atau tertekan. Sedangkan setia berarti dilakukan dengan bertanggung jawab dan hasilnya pasti berkwalitas. Bagi Paulus, Itulah gambaran iman yang sejati. Sebab mengerjakan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita dan dilaksanakan dengan tulus dan setia, maka kita telah memberlakukan pengajaran Kristus melalui pengajaran para rasul. Seperti yang Paulus katakan : “..Supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memulihkan ajaran Allah, Juruslamat kita”. Paulus sadar betul, bahwa pekerjaannya adalah memberikan pengajaran mengenai kasih Allah dalam Kristus Yesus kepada semua orang, supaya setiap orang yang telah menerimanya melakukan dan meneruskan kepada orang lain.

Aplikasi
Saudaraku, dari uraian Firman Tuhan yang telah kita dengar bersama, pesan apa yang dapat kita renungkan untuk menuntun dan memotivasi kita bersama keluarga melaksanakan rencana Tuhan dalam perjalanan hidup ini…?? Menurut saya ada beberapa hal menarik yang patut menjadi perenungan kita :

  • Pekerjaan itu merupakan anugerah yang Tuhan percayakan untuk dapat kita kerjakan dengan baik dan bertanggung jawab tentunya. Apapun status kita sebagai seorang pekerja, sebagai atasan-kah atau sebagai bawahan, sebagai tuan-kah atau sebagai hamba atau budak. Ingat semua itu hanya titipan sementara yang harus dihormati, tetapi juga yang harus dipertanggung jawabkan. Namun seringkali kita menemukan orang yang tidak begitu menghargai pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadanya. Mereka melakukannya dengan sesuka hati, tidak serius dan malas, tidak jujur, apalagi bertanggung jawab. Jika karakter yang dibangun seperti itu, tentu akan berdampak besar, bukan hanya kepada sipemberi kerja, tetapi juga bagi pekerja itu sendiri. Bagi si pemberi kerja, akan mengalami kerugian, dan bagi si pekerja juga akan mengalami kerugian, yaitu di PHK atau tidak dapat dipromosikan untuk jabatan tertentu. Tuhan Yesus pernah dalam FirmanNya mengatakan : “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21). Jadi bertekun dalam suatu tanggung jawab yang kecil, maka akan berdampak pada suatu tanggung jawab besar akan menanti.
  • Paulus berbicara tentang hubungan hamba dengan tuannya, sebagai hubungan persaudaraan atau persahabatan. Dalam hal ini, Rasul Paulus mau mengatakan bahwa, Jangan melihat seseorang hanya terbatas pada status sebagai hamba atau sebagai Tuan. Tetapi Paulus ingin mengajak setiap orang untuk melihat orang lain apapun statusnya, sebagai sesama manusia. Tuhan Yesus dalam Injil
    Lukas 10 : 25 – 37 menceritakan tentang siapakah sesamaku manusia dalam sebuah perumpamaan tentang seorang penyamun yang terletak di jalan dan tak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Pada saat itu lewat seorang imam dan melihat orang yang tergelak itu namun tidak mau menolongnya. Kemudian beberapa saat seorang Lewi, melewati jalan itu dan melihat orang yang tergelak itu, namun tidak juga mau menolongnya. Kemudian seorang Samaria yang melewati jalan tersebut, dan ketika ia melihat ada orang yang tergelak, tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Akhirnya orang Samaria itu menolongnya. Dalam perumpamaan itu, Yesus hendak mengajarkan kepada kita, untuk melihat dan mau pedali kepada orang lain, apa pun status sosialnya sebagai sesama manusia. Tuhan Yesus tidak ingin kita menciptakan jarak, oleh karena status sosial kita yang berbeda. Jadi, mari kita belajar dari ungakapan ini: Jika sekarang kita berstatus sebagai tuan / pimpinan, atau status sosial kita sedang baik, ingatlah bahwa dulu kita sebagai seorang bawahan atau hamba, atau kita dulunya hidup biasa-biasa saja, hanya karena kemurahan Tuhan, IA mengubah keadaan kita sedikit berbeda dengan orang lain. Karena itu, Janganlah kita menjadi sombong oleh karena status sosial kita melebihi orang lain, namun mari kita mensyukuri sebagai berkat Tuhan.
  • Saudaraku, renungan kita ini, mau mengingatkan kita tentang hubungan kita sebagai hamba dan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Paulus juga mengajarkan bagaimana kita membangun relasi yang baik dengan Tuhan Yesus sebagai sang pemberi kehidupan dan berkat. Tentu menurut Paulus, bahwa yang diinginkan Tuhan Yesus kepada kita adalah kesetiaan, kejujuran dan ketekunan kita dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai Tuhan, Yesus ingin, kita melaksanakan kehidupan dan aktivitas seperti yang IA kehendaki. Penerapan ajaran yang benar, yang telah kita peroleh dari setiap pengajaran firman, haruslah menjadi standar bagi kita untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan. Sehingga status yang sekarang kita sandang bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai sahabat, seperti yang Tuhan Yesus katakan: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, Sebab hamba tidak tau, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”(Yohanes 15:15) dan bahkan menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1 : 12). Karena itu, mari kita terus melakukan kehendak Bapa dalam hidup kita, kita terus membangun relasi atas sesama tanpa harus ada perbedaan, dengan semangat saling mengasihi dan saling peduli seorang dengan yang lain, sebagai wujud penerapan dari ajaran Kristus. Amin.

Selamat mempersiapkan pelayanan ibadah keluarga yang Tuhan Yesus percayakan kepada kita. Mintalah hikmat Tuhan, agar Roh kudus membimbing dan menuntun kita dalam melayaniNya. Tuhan Yesus berkati.
Salam Pdt. Samuel Natar, M. Th.

 

 

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *