Waspada dan Siaga

Sabda Bina Umat

Materi Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 23 Mei 2018

WASPADA DAN SIAGA
Nehemia 4 : 1 – 14
Oleh: Pdt. Samuel Natar, M. Th.

Pendahuluan

Peristiwa teror bom yang terjadi di Surabaya dan di Sidoarjo, serta teror yang terjadi di Riau, telah mendorong aparat keamanan dan pemerintah memberlakukan siaga 1. Siaga 1 dimaksudkan, bahwa baik aparat maupun pemerintah, meningkatkan kewaspadaan dan kesigapan kekuatan yang extra. Artinya, pemerintah dan aparat tidak segan-segan melumpuhkan para teroris dengan keras, bahkan dilumpuhkan dengan cara tembak mati. Tujuannya, untuk mengingatkan dan menyadarkan para teroris, agar dapat mengurunkan niatnya, apabila mereka hendak mengganggu ketenangan masyarakat dengan aksi-aksi teror mereka. Apalagi, pemerintah telah melibatkan unsur TNI, dari pasukan elit anti teror mereka, mau memperlihatkan bahwa pemerintah sangat serius dalam menumpas Teroris di bumi Indonesia ini.

Pemahaman Konteks

Dari bacaan kita saat ini, yang di beri tema: “WASPADA DAN SIAGA”, juga berbicara tentang teror yang dialami dan dihadapi oleh umat Israel, ketika mereka memulai pembangunan kota mereka.
Dikisahkan, bahwa Ada tiga rombongan orang Israel kembali dari pembuangan di Babel dan Persia. Rombongan pertama dan kedua, dikisahkan oleh Ezra (Ezra 1: 3, 5). Sedangkan rombongan ketiga yang diperkenankan pulang ke Yerusalem dikisahkan oleh Nehemia. Namun, Nehemia mengungkapkan bahwa, orang-orang Israel yang kembali pulang ke tanah leluhur mereka di Yerusalem, mengalami kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Karena tembok kota Yerusalem dan pintu-pintu kota telah hancur terbakar (Neh. 1:3b). Artinya, kalau tembok dan pintu kota sudah hancur, itu berarti bahwa mereka tidak memiliki perlindungan lagi, dan tentu tempat tinggal mereka pasti tidak terluput dari kehancuran. Situasi Itulah yang membuat mereka berduka dan bersedih. Keadaan yang dialami oleh saudara sebangsanya yang cukup menderita, buat Nehemia ikut juga merasakan kepedihannya. IA berkabung, ia bersedih, ia berpuasa dan berdoa kehadirat Allah untuk memohon belaskasihanNya (Neh. 1:4). Nehemia mencoba mengingatkan Tuhan Allah dalam doanya, bahwa umat yang telah mengalami kesusahan dan penderitaan di tanah nenek moyangnya sendiri, adalah umatMu yang telah Engkau bebaskan dari perbudakan di Babel dan Persia. Sekarang, mereka memohon belaskasihanMu untuk memulihkan keadaan mereka yang telah hancur (Nehemia 1:5 – 11).
Tuhan, mendengar doa Nehemia dan melalui Raja Artahsasta, ia dipercayakan untuk memimpin pembangunan tembok kota, bahkan Tuhan Allah memberi kemudahan kepada Nehemia untuk memperoleh kebutuhan bahan bangunan yang mereka butuhkan (Nehemia 2 : 5 – 9).

Pemahaman Teks

Walau segala sesuatu kebutuhan pembangunan dapat Tuhan penuhi, namun Nehemia bersama umat Israel tetap mengalami berbagai hambatan saat mereka mulai pembangunan tembok kota Yerusalem. Mengapa demikian, karena sesuatu yang baik menurut kita, ternyata tidak bagi orang lain. Nehemia mengisahkan, adalah kelompok orang yang tidak menghendaki dan merasa sakit hati, orang Israel membangun tembok kota mereka, seperti Sambalat, Tobia dan beberapa orang lain (ay. 1, 3, 7). Karena itu, berbagai cara mereka tempuh untuk mengganggu dan melemahkan semangat orang Israel membangun tembok kota, seperti mengejek, mentertawai, atau bahkan menghambat orang-orang mengerjakan pekerjaannya. Tampaknya, cara yang dilakukan oleh Sambalat, Tobia dan lainnya untuk melemahkan orang Israel berhasil. Orang Israel Sepertinya menjadi lemah semangatnya untuk membangun. Karena itu, Nehemia kembali berdoa kepada Allah (ay. 4). Doa Nehemia kepada Tuhan, agar IA memberikan keyakinan kepada umat Israel, bahwa tembok yang dibangun tersebut, juga merupakan simbol kebesaran dan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Karena bagi Nehemia, bahwa tembok kota yang mereka bangun, merupakan kebanggaan bangsa Israel, sekaligus tempat perlindungan mereka, dan tentu Allah bertahta di tengah-tengah mereka.
Dalam doa Nehemia, ia meminta agar Tuhan menghalau dan menghukum mereka, musuh-musuh Israel. Karena bagi Nehemia, bahwa ketika orang lain, atau bangsa lain menghujat umat pilihanNya, maka sama saja mereka menghujat Allah (ay. 4-5).
Karena niat jahat yang melahirkan kejahatan, maka rancangan kejahatan akan tetap dilakukan. Seperti yang dikatakan Pada ay. 7-8. “Ketika Sambalat dan Tobia, serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka. Mereka semua mengadakan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana”. Mari membanyangkan bahwa umat Israel dikelilingi oleh kekuatan pasukan yang tidak sedikit, yang hendak memerangi mereka, disaat umat Israel sedang terkuras tenaga mereka oleh pembangunan tembok kota. Karena Itulah, umat Israel kembali berdoa kepada Allah. Karena bagi Nehemia dan umat Israel, bahwa kekuatan sejati mereka adalah Allah sendiri. Mereka sendiri mengakui, bahwa menang dan kalah, ada dalam kendali Allah. Berdasarkan iman kepada Allah Itulah, maka umat Israel berkeyakinan akan mengarahkan musuh-musuh mereka. Bayangkan pedang atau tombak di tangan kanan dan di tangan kita bahan bangunan. (ay. 13-14). Artinya mereka harus tetap bekerja menyelesaikan tembok kota tersebut, malau pada saat bersamaan mereka harus siap menghadapi serangan musuh. Umat Israel berkeyakinan, Kalau terjadi penyerangan dan peperangan dari kekuatatan pihak lain, maka pasti Allah yang akan berperang menawan musuh-musuh Israel. Seperti ungkapkan Paulus: “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita..??”

Aplikasi

Saudaraku, dari uraian Firman Tuhan yang telah kita dengar saat ini, apa yang dapat kita renungkan??. Menurut saya, tentu ada pokok-pokok penting yang patut menjadi perenungan kita bersama, antara lain :

  • Terkadang Ketakukan melanda hidup kita, seperti aksi teror yang menyebabkan pada ibadah Minggu kemarin, ada beberapa gereja yang menghentikan kegiatan ibadahnya. Saudaraku, perasaan kuatir dan takut itu sesuatu yang wajar. Namun tidak perlu terlalu berlebihan sampai tidak beribadah kepada Tuhan. Mengapa, sebab ketika ketakutan tersebut telah menguasai hidup kita, maka iman kita pasti akan menjadi lemah. Pada hal, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita agar tidak perlu kuatir, apalagi takut. Artinya, ketika perasaan takut mulai menghatui kita, maka iman percaya kita kepada Kristus Yesus, harus lebih mendominasi dalam hidup kita, sehingga kita tidak lupa untuk memohon pertolonganNya, melalui doa kita.
  • Memang harus kita ketahui, bahwa apapun peristiwa yang sering atau mungkin kita alami dan hadapi dalam hidup ini, semuanya tidak terlepas dari perhatian Tuhan. Karena itu, berbagai tantangan, kesulitan, penderitaan atau kesengsaraan, yang sering membuat kita merasa kuatir dan takut, hadapilah semua itu dengan berserah dan berseruh kepada Allah. Sebab hanya kepada Allah, kita akan menemukan kedamaian, ketenangan dan jalan keluar. Karena itu, Tuhan Yesus selalu berpesan kepada kita, JANGAN KAMU TAKUT.
  • Harus kita ketahui, bahwa dalam hidup bersesama, terkadang kita berjumpa dengan rancangan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap kita maupun kepada orang lain. Seperti yang dialami oleh Nehemia dan umat Israel, atau seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus. Namun, mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang memberi pengampunan, kepada mereka yang merancang kejahatan dan yang telah melakukan penganiayaan kepadaNya. Kata Tuhan Yesus saat di kayu salib : Ya Bapa, ampunilah mereka, Sebab mereka tidak tau apa yang telah mereka perbuat. Tuhan Yesus mengingatkan kita, bahwa setiap tindakkan kejahatan, tidak perlu harus dibalas dengan kejahatan. Tetapi dibalas dengan mendoakan mereka, agar kasih Tuhan Yesus memenuhi kehidupan mereka, sehingga mereka dapat diubah seperti yang Tuhan Yesus inginkan. Walaupun demikian, Tuhan Yesus tetap mengingatkan kita untuk tetap waspada dan siaga dalam iman dan pengharapan, agar kita tetap teguh menghadapi dunia yang bergejolak ini, dengan tetap melihat Tuhan Yesus sebagai sandaran sejati kita.
    Amin.

Selamat mempersiapkan pelayanan pemberitaan Injil Kristus dalam ibadah keluarga. Tuhan Yesus akan memperlengkapi kita. Amin.
Salam Saya, Pdt. Samuel Natar, M.Th.

 

Informasi Penulis:

Pdt. Samuel Natar, adalah Ketua Majelis Jemaat GPIB jemaat “Immanuel” Mojokerto. Bertugas di Mojokerto sejak 14 Atustus 2016. Kiranya apa yang dituliskan sebagai bahan tambahan renungan dalam memahami Firman Allah; kebenaran mutlak pada Alkitab, mintalah Bimbingan Roh Kudus untuk mengerti dan memahami makna Firman Allah tersebut

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *