Pelita Yang Menghidupkan

Bacaan Alkitab: Mazmur 119:105-112

Pengantar

Kata–kata yang indah dalam kalimat puisi dihimpun menjadi sebuah syair yang berisi pujian kepada Allah. Puji-pujian kepada Allah itupun dinyanyiakan dengan iringan alat musik seperti gambus atau kecapi atau musik yang berdawai. Syair yang tersusun rapi dinyanyikan dengan alat musik dalam kalangan Umat Yahudi disebut sebagai Mazmur. Kumpulan syair pujian kepada Allah dihimpun menjadi kitab puji-pujian yang selain dinyanyikan bisa juga dapat dibaca. Namun cara membaca Mazmur ini begitu sangat berbeda dengan cara membaca bacaan biasa. Ia harus dibaca dengan menggunakan intonasi seperti orang membaca puisi ata pun membaca sajak dengan intonasi yang indah di dengar.

Karena keindahan syair dan memiliki bobot iman yang baik maka bisa kita temui begitu banyak ayat-ayat dari kitab Mazmur dikutip oleh penulis Kitab Kudus Perjanjian Baru. Mazmur mempunyai pesan iman dan bahkan nubuatan serta ajaran moral sebagai pegangan hidup yang baik.

Perikop bacaan yang kita gumuli merupakan syair yang mengajarkan seorang yang percaya pada Tuhan agar setia berpegang pada Firman Tuhan atau dalam hidup sehari-hari berpegang ajaran Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Firman adalah penuntun hidup. Sekalipun pemazmur (pemazmur = orang yang menulis mazmur) melihat atau merasakan sendiri penderitaan karena orang fasik tetapi ia berketetapan hati hanya memegang Firman Tuhan. Tidak pemazmur ceritakan alasan mengapa ia begitu kokoh menaruh kepercayaan dan berpegang pada Firman Tuhan sebab tentu dalam pengalaman yang ia temui kekuatan dan kuasa Firman itu membuat hidup moralnya tetap baik ( ayat 1 – 3). Ia bertahan mengikuti Firman ini karena ia menyadari roh kebaikan harus tetap hidup dan roh kebaikan itu hanya ditemui dalam Firman Tuhan saja.

Ulasan Mengenai Telaah Perikop

Ayat 105 pernyataan Firman sebagai pelita. Kalau pemazmur menyatakan firman sebagai pelita itu menunjukan kalau dunia yang ia tinggal adalah gelap. kegelapan itu ia lukis dengan perilaku manusia yang fasik (11) yang menindas dirinya (107). Dalam kegelapan hidup itu pemazmur menyatakan kalau Firman Tuhan adalah pelita. Kita semua tahu kalau pelita adalah wadah penerang. Ia membuat manusia dapat melihat segala sesuatu di sekitarnya juga oleh pelita itu semua yang ada disekitarnya dapat bergerak tanpa rasa takut tersentuh lantas celaka atau luka.

Oleh karena pemazmur tahu alat penerang yang baik adalah pelita, ia bersumpah dalam ayat (106) untuk menepati atau berpegang teguh pada pelita yaitu firman yang membuat hidunyap bebas dari bahaya.

Pada ayat 107a dan 108a pemazmur menceritakan pengalaman hidupnya yaitu ada orang-orang yang membuat jalan hidupnya sungguh tertindas. Mereka yang menindas pemazmur ini diibaratkan seperti orang membuat jerat untuk menangkap hewan buruan. Itu berarti pemazmur sedang berada dalam kebinasaan. Sekalipun ia sedang terperangkap dalam jebakan yang membinasakan namun di sini ia mengajarkan pada kita yang hidup karena iman supaya berpegang pada firman Tuhan (106), menaikan persembahan sukarela pada Tuhan dengan nyanyian pujian (108), hal seperti ini pernah diperbuat oleh Paulus dan Silas dalam penjara sampai mereka beroleh kebebasan karena Allah.

Firman Tuhan yang menjadi penerang hidup yang terbukti menyaksikan kebaikan, membuat pemazmur berseru kepada Tuhan supaya Tuhan menghidupinya dengan Firman (107b), mengajarkan hukum-hukum kepadanya (108b) serta untuk itu, ia tidak akan melupakan firman Tuhan atau Taurat Tuhan.

Pada ayat 111, pemazmur hendak menyatakan kalau firman Tuhan itu sebagai warisan pusaka. Firman adalah benda keramat yang melindungi dan menyenangkan jiwanya. (111). Milik pusak biasanya dipelihara, dirawat dan ia menjadi kebanggaan pemiliknya. Benda pusaka adalah kekayaan leluhur yang turun-temurun itu diteruskan pada generasi berikutnya. Kekayaan Firman sebagai barang pusaka adalah warisan orang beriman yang memiliki kekuatan yang berkasiat baik dalam membentuk moral manusia sehingga patut dipelihara dari satu generasi ke generasi yang lain. Karena itulah dalam ayat 112, pemazmur mengatakan kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu ( =Firman Tuhan) untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

Pokok Pikiran Mazmur 119 : 105 – 112

Firman Tuhan adalah seperti pelita yang menyala di kegelapan malam. Ia, Firman Tuhan itu adalah seperti warisan milik pusaka. Firman itu memiliki kekuatan yang bukan hanya melindungi pemazmur atau orang beriman melainkan mengajarkan kebaikan kepada sesama.Firman yang adalah harta pusaka pemazmur dan orang beriman ia berfungsi memelihara orang beriman dan menjadi kebanggaan yang memegangnya.

Firman Allah yang sejati adalah Yesus Kristus, sebab dalam Yoh 1 : 14, menyatakan: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita,” Yesus adalah Firman pembebasan sebab kala kita menanggung menanggung beban yang berat Ia berkata: “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Biasanyadalam hidup dengan teman atau sahabat orang tidak ingin menanggung beban sesamanya, apalagi yang berat tetapi Tuhan berkata kalau Dia yang bersedia menggung semua beban kita. Bahkan Ia rela mati untuk melepaskan semua penderitaan kita. Kita yang menerima keringan beban karena Kristus pasti akan menceritakan kasih-Nya itu kepada semua orang. Dunia akan tahu kalau penerang hidup yang membuat kita lega adalah Tuhan Yesus Kristus.

Berpeganglah pada milik pusaka Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Waru, 21 Januari 2014

Pdt. J.Wairisal

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *